KELINCI UNTUK HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

rendah lemak, rendah kolesterol, populasi cepat, dahsyat!

Keluarga Mandiri dari Kelinci


-Ketika Orang Kota Memberikan Modal kepada Orang Desa

Usaha mandiri adalah jalan terbaik untuk meraih kesejahteraan keluarga di desa. Banyak anak-anak muda, baik yang masih lajang maupun sudah berkeluarga tak juga menemukan usaha baru. Pengangguran pun merajalela. Mestinya sekarang kita menyadari bahwa banyak potensi berserak yang mesti dikumpulkan dan dipilih salahsatunya sebagai upaya meraih penghasilan ekonomi.

Saya bukan peternak, tetapi hanya pemberi modal usaha untuk ternak kelinci pada sebuah keluarga petani di desa, di Tegal Jawa Tengah. Tulisan ini sebagai cara saya berbagi kepada teman-teman semua.  Bagi saya,  ternak kelinci adalah salahsatu potensi yang mesti dikembangkan oleh masyarakat untuk mengurangi pengangguran atau meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga desa. Beberapa hal yang potensial dan realistis dijalankan orang-orang desa dengan ternak kelinci dilatarbelakangi oleh beberapa alasan berikut ini.

Ternak kelinci bisa dimulai dari modal kecil, Rp300ribu, Rp 500ribu, atau juga bisa sekitar Rp 1 juta. Modal kecil lebih baik supaya tidak terlalu cemas resiko akan kegagalan. Dan memang itulah yang disarankan dari prinsip wirausaha, yakni mengembangkan sesuatu yang kecil menjadi besar.

  1. Masyarakat desa memiliki pakan murah berupa rumput karena memang pakan pokok kelinci adalah rumput. Sayuran dan konsentrat dari ampas tahu dan bekatul juga tidak terlalu sulit diusahakan.
  2. Lahan sekitar 5-10 meter persegi cukup untuk sarana usaha ternak kelinci.
  3. Beternak kelinci tak usah berurusan dengan formalitas. Lulusan SD atau bahkan tidak sekolah sama sekali bisa menjalankan.
  4. orang desa punya dasar perhatian terhadap hewan ternak. Tinggal bagaimana memodernisasi dan merasionalisasi usaha ternak domestik secara tepat.

Lima hal ini saya simpulkan setelah saya melakukan ujicoba beternak kelinci bagi saudara saya di desa. Sebagai orang kota yang selalu diributkan masalah ekonomi orang desa saya tidak mungkin terus-menerus memanjakan pemberian uang tanpa kerja. Dan saya merasa beruntung karena hanya dengan memberikan modal usaha kepada saudara saya di desa itu sekarang mereka sudah berkembang dan memiliki peningkatan penghasilan. Dulu saya hanya memberikan modal Rp 500ribu untuk 3 ekor bibit dan membelikan dua buku Kelinci Karangan Faiz Manshur (Kelinci: Pemeliharaan Secara Ilmiah, Tepat dan Terpadu dan menyusul kemudian Buku Ternak Uang Bersama Kelinci).

Sedangkan kandang dan peralatan saudara saya memanfaatkan bahan-bahan gratis di desa. Modal 500 ribu inilah yang sekarang telah berubah menjadi asset sekitar 5 juta dalam setahun. Sekarang sudah ada 25 ekor induk dan terus melahirkan banyak anak-anak kelinci. Selain mendapatkan peningkatan pendapatan ekonomi rata-rata Rp 800ribu setiap bulan, keluarga di desa juga mendapatkan gizi daging kelinci yang katanya memang sehat di banding daging sapi atau domba. Saya mengucapkan terimakasih kepada penulis buku itu, karena dari kedua buku yang saya kirimkan ke desa itulah sekarang terjadi perubahan.

Pun demikian saya juga perlu menyampaikan secara berimbang beberapa hal sebagai berikut.

  1. Memulai usaha kelinci mestinya didasari oleh rasa suka dan cinta terhadap kelinci.
  2. Orang desa mesti dibekali ilmu pengetahuan yang baik untuk memelihara kelinci rumahan. Dengan buku itu minimal calon peternak mendapatkan dasar-dasar ternak kelinci yang baik.
  3. Pemantauan dan bimbingan terus dilakukan, Juga pemberian motivasi semangat untuk terus berkembang dan yakin bahwa usahanya akan bermanfaat.
  4. Tidak ada usaha yang cepat dan langsung menghasilkan uang dalam waktu dekat. Kelinci hanya memberikan potensi, selebihnya peternak sendiri yang dituntut untuk terus mengelola potensi itu secara tekun dan tiada kenal lelah berusaha.
  5. masalah penyakit seringjadi persoalan. Dan memang tidak cukup dengan buku kelinci itu. Kita orang kota yang memiliki akses informasi luas dari internet mesti sering melayani orang desa dengan mengirim banyak naskah-naskah ke desa agar mereka terus mendapatkan pasokan ilmu pengetahuan.
  6. Jika ingin aman dalam tahun pertama, sebaiknya disarankan calon peternak belajar magang. Itu lebih cepat untuk mendapat ilmu.
  7. Jangan terburu-buru berpikir soal hasil. Setahun pertama tetap saja usaha apapun sulit dilakukan sebab masih dalam masa merangkak. Terus saja dipantau dan diberi motivasi agar bertahan sekalipun banyak halangan.

Demikian pengalaman yang saya sampaikan kepada Kabar Kelinci Indonesia (KKI). Saya merasa berhutang budi banyak dari blog KKI yang banyak memberi informasi seputar kelinci selama masa 1,5 tahun ini. Al-khamdulillah sekarang sebuah keluarga di desa itu telah berhasil menjadi keluarga mandiri. Dengan penghasilan tambahan sekitar Rp800ribu setiap bulan, jelaslah potensi kelinci sangat baik untuk orang desa. Terimakasih.

(Drs Purwanto, PNS asal Tegal, Tinggal di Bekasi)

9 responses to “Keluarga Mandiri dari Kelinci

  1. johan 17 Januari 2010 pukul 5:07 am

    bagai mana jika 10 ekor kelinci dimasuk kan dlm 1 kandang tanpa sekat??
    apa bisa berpengaruh?
    terimakasih.

  2. kaira 17 Januari 2010 pukul 1:52 pm

    P Pur,saya juga mau dibantu modal buat ternak kelinci,lokasi di daerah ponorogo,jatim, salam

  3. Kabar Kelinci Indonesia 17 Januari 2010 pukul 3:11 pm

    oh, pengaruhnya bagus sekali. Kami jamin angka kematian anak seratus persen. Itu yang pertama. Yang kedua, betina sesama betina akan berkelahi, demikian juga pejantan. Stres akan melanda induk hamil dan anak-anak kelincinya akan pada mati karena terganggu.

  4. Rismana 28 Januari 2010 pukul 4:26 pm

    Bagaimana ya pak,saya dah jenuh kerja dikota sbagai karyawan.sebetulnya saya itu pengen banget ternak kelinci di kampung halaman sendiri,tapi sayang saya harus menelan bulat2 mimpi saya itu karena ke dua orang tua saya sepertinya kurang mendukung.Gimana ya pak supaya ortu setuju supaya saya bisa ternak kelinci?

  5. Kabar Kelinci Indonesia 29 Januari 2010 pukul 1:21 am

    dukungan pihak lain di keluarga sangat menentukan. Sebab kalau tidak mendapat dukungan nanti akan jadi masalah. Sedikit2 hal yg tidak bermasalah akan dipermasalahkan. Yg jadi kendala mungkin soal imajinasi. Mengapa orang tua anda tidak setuju? apa pandangan beliau tentang ternak kelinci? barangkali di situlah masalahnya. Pertama dianggap kotor, kedua dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomis karena menganggap ternak kelinci seperti halnya yg dilakukan para petani. Ajak saja main2 ke peternakan yg sudah sukses biar kebuka pandangannya.

  6. Iban 12 Februari 2010 pukul 3:59 am

    ya bagus sekali salut buat pak pur yang di bekasi, semoga banyak orang berpikir seperti bapak sehingga peternakan kelinci bisa maju pesat di indonesia, amien.

  7. musnira 25 Februari 2010 pukul 10:08 am

    mas sy ingin belajar ternak kelinci, tp di cirebon ada tempat ternak ga? alamatnya dmn?

  8. tri slawi 23 Maret 2010 pukul 2:29 am

    tegalnya mana pak saya mau ke sana mau berguru pak. Saya juga dari slawi. bisa kontak ke 08156926771

  9. wahyu widodo 10 Oktober 2010 pukul 1:44 pm

    saya ada keinginan utk usaha ternak kelinci dan karna lokasi saya dimadiun trus pemasaranya gimana ?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: