KELINCI UNTUK HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

rendah lemak, rendah kolesterol, populasi cepat, dahsyat!

Kelinci dan Globalisasi


rabbit 1Krisis global menciptakan pengangguran baru. Lapangan kerja yang cupet membuat nafas hidup jutaan rakyat megap-megap. Tekanan demi tekanan ekonomi di negeri ini seolah-olah tak akan pernah berujung. Bagaimana kita melangkah menuju kehidupan ekonomi yang lebih baik? Yang harus dilakukan ialah meninggalkan asumsi dan harapan datangnya “ratu adil” bernama lapangan pekerjaan. Lapangan kerja, apalagi jika itu diharapkan datang dari pemerintah hanyalah mitos. Kalaupun ada sekian persen terbuka lapangan kerja belum tentu kita bisa masuk ke “tanah yang dijanjikan” itu. Orang baik bukan hanya mampu berpikir baik, melainkan juga harus berani melangkah, menerobos gulita ekonomi Indonesia.

Maka, slogan ciptakan lapangan kerja sendiri adalah suatu keharusan yang tak bisa ditunda lagi. Ada banyak peluang usaha, dengan modal uang secukupnya dan bisa menjamin masa depan lebih pasti ketimbang kerja “nguli kantoran”. Dari sekian peluang itu, kelinci adalah kata kuncinya. Orang bijak mestinya tak akan memalingkan diri dari informasi baru atau informasi yang asing. Kebaruan adalah fitrah kehidupan, dan sesuatu yang asing itu ialah kabar baru yang harus diserap dipahami secara mendalam. Beternak kelinci adalah sesuatu yang baru dan asing. Tetapi di sinilah ujian kita sejauh mana mampu menjadi manusia bijak untuk membangun kehidupan ekonomi baru. Kalau akar masalahnya adalah sektor riil, maka ternak kelinci adalah akar yang bisa ditanam sebagai tumbuhan uang. Kalau masalahnya adalah kesulitan membayangkan praktek ternak kelinci, maka solusinya jelas mempelajari, baik belajar dari peternak langsung maupun dari buku-buku bacaan. Globalisasi membutuhkan sikap yang revolusioner untuk membangun ekonomi keluarga kita ke arah yang lebih baik. Ternak kelinci membukakan jalan untuk meraih sukses tersebut. ‘rabbithabbit

Pertanyaan yang patut diajukan di sini ialah, kenapa orang lantas tidak berbondong-bondong beternak kelinci? Pasti ada faktor di baliknya. Pertama, masyarakat kita sudah jauh dari “ideologi” beternak maupun bertani. Kebanyakan orang sudah bosan menyandang predikat tani. Peternak, termasuk petani itu identik dengan keterbekalangan. Ini berbeda dengan asumsi masyarakat negara maju di mana predikat petani sejajar dengan predikat usahawan di bidang teknologi, atau pengusaha modern lainnya. Kalau di negara maju rata-rata anak-anak muda yang berlatar belakang keluarga petani dan memperoleh pendidikan pertanian/peternakan berusaha maksimal tetap mengembangkan dunia pertanian/peternakan, lain dengan kaum muda Indonesia.

Bahkan sarjana pertanian pun enggan bertani. Mereka lebih memilih menjadi kuli-kuli dengan menyerahkan secarik kertas label sarjananya. Kedua, tidak memiliki lahan dan sarana pendukung, seperti pasokan rumput, pengelolaan pakan dan lain sebagainya. Masalah konvensional yang akan selalu terjadi di belahan dunia manapun ini sering dijadikan alasan. Nusantara dengan dua pergantian dua musim serta sumberdaya alam yang sangat mendukung masih dianggap problem. Kita lupa bahwa di negara-negara lain kondisi alamnya kalah jauh dengan Indonesia justru dijadikan tantangan untuk meraih sukses. Ketiga, ketidaksukaan pada hewan peliharaan.

Masalah pertama adalah faktor budaya. Ini adalah masalah mentalitas bangsa secara umum di mana kalangan muda kita lebih dengan gaji pragmatis ketimbang menjadi entrepreneur, terutama di bidang peternakan atau pertanian. Alih-alih mengejar potensi ternak, mengejar potensi dirinya saja tidak mampu. Mereka lebih suka menghargai dirinya sekedar sebagai kuli ketimbang jadi wirausaha mandiri. Masalah ini agak sulit dipecahkan karena sudah menjadi masalah mental.
Faktor kedua sebenarnya bisa dipecahkan. Kita tahu setiap usaha selalu ada halangannya,-baik lingkungan, sarana, modal maupun ilmu pengetahuan. Di sini, selama ada niat dan tekad untuk mewujudkan usaha dipastikan akan mendapat jalan keluar. Sedangkan masalah ketiga adalah masalah selera yang bisa dimaklumi. Dunia usaha tidak sekedar ditentukan oleh modal atau keinginan, melainkan sangat erat ditentukan oleh hobi. Bahkan, hobi itu sendiri yang paling banyak menentukan kesuksesan orang untuk menjadi pengusaha sukses. Karena itu, jika di antara kita sudah memiliki jiwa peternak sekaligus wirausahawan, berniat sungguh-sungguh dan mencintai kelinci, maka modal dasar inilah yang akan mengantarkan pada kesuksesan.

Soal modal uang, pemasaran, sarana pendukung, relasi dan ilmu pengetahuan bisa didapatkan sambil menjalankan usaha. Beternak kelinci butuh jiwa kewirausahaan karena tidak sekadar mengelola ternak, melainkan harus mahir memimpin gerbong peternakan yang mana di dalamnya terdapat komponen-komponen di luar urusan ternak. Masalah pakan misalnya, membutuhkan pemahaman yang mendalam dari seorang peternak. Karena itu seorang peternak disyaratkan harus banyak memahami ilmu nutrisi hewan. Demikian juga dengan masalah kesehatan hewan. Seorang peternak yang baik juga dituntut mengenal kesehatan hewan beserta obatan-obatannya.

Pengolahan kotoran untuk pemanfatan pupuk juga menjadi bagian terpenting dari seorang peternak agar semua potensi yang ada pada kelinci bisa dimanfaatkan secara maksimal. Tak kalah pentingnya adalah kemampuan peternak dalam hal manajemen keuangan, manajemen pengelolaan karyawan, manajemen pemasaran dan lain sebagainya. (dari buku TERNAK UANG BERSAMA KElINCI, Panduan bisnis, investasi, marketing dan pemberdayaan ternak kelinci, faiz manshur 2009)

5 responses to “Kelinci dan Globalisasi

  1. muhamad ikhsan 11 November 2009 pukul 12:55 pm

    sya sgt stju dgn hal diats,kta sbg bgsa yg baik hrs bsa mandiri,sya jg trtarik dgn trnak klnci krn tu hbi sya,mho tmpilkan infrmsi2 lainy tentang ternak kelinci.slm knal ikhsan.

  2. rahayat letiek tea 19 November 2009 pukul 11:25 am

    baru 6 bulan ternak, istilah ini terlalu besar bagi saya kalau di katakan ternak, namun berawal dari suka, sekarang saya kekurangan klinci anakan maupun dewasa, bahkan masih hamil saja sudah di boking, bagi yang mau boleh shering yah.

  3. irawan wijayanto 23 November 2009 pukul 9:05 am

    sya awalnya dari hoby aja sih, tapi kok lama2 banyak yang cari bibit kerumah. kayanya mulai banyak masyarakat yang tertarik pelihara kelinci ya. syukur deh klo gt, utk memperbaiki kualitas gizi keluarga. oya, sya pelihara rex, angora, flemish giant, australi(new zealand). saya irawan, tinggal di karanganyar solo. silaturahmi yuk…
    sms aja di 085229081347

  4. nank suhe 3 Desember 2009 pukul 3:24 pm

    saya tertarik dengan ternak kelinci tapi saya bingung dengan pemasarannya tolong yang tau pemasaran

  5. Kabar Kelinci Indonesia 3 Desember 2009 pukul 4:13 pm

    pelajari saja dulu materi2 di sini. Pemasaran bukan problem.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: