KELINCI UNTUK HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

rendah lemak, rendah kolesterol, populasi cepat, dahsyat!

Potensi Daging Kelinci dan Problem Harga Pasar


DSC00073Detik.com/Bandung Tak terasa perjalanan penulis menjadi peternak kelinci di Lembang memasuki usia 19 tahun. Hari demi hari berjalan. Orang-orang dari luar Lembang yang tertarik pada ternak kelinci, seringkali terkagum-kagum dengan banyaknya peternak kelinci di Lembang. Ini sesuatu yang membanggakan karena ternyata Kelinci Lembang memberikan banyak inspirasi usaha bagi masyarakat luas, bahkan sampai ke luar negeri. Tetapi jangan sampai kebanggaan itu membuat kita terlena. Apakah dengan kemajuan itu para peternak sudah meraih hasil dari usahanya? Dari sekitar 800 peternak di kawasan Kecamatan Lembang dan Parongpong, berapakah yang benar-benar sukses berwirausaha? Jangan-jangan mereka bertahan usaha hanya sekedar bertahan karena tidak ada pekerjaan lain.

Ketimpangan harga
Benar bahwa kelinci sudah memberi bukti sebagai hewan penghasil daging berkualitas, dibanding daging sapi atau domba. Bahkan dalam hitungan setahun, kemampuan menghasilkan dagingnya pun lebih lebih dibanding sapi. Riset Balitnak pada 2005 misalnya, menyebutkan usaha kelinci berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan, sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun akan menghasilkan Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan. Dengan harga minimal ini, peternakan kelinci masih bisa untung, sekalipun sangat sedikit. Namun justru di sinilah masalahnya. Harga rendah ini kemudian mengalihkan banyak peternak kelinci pedaging beralih ke kelinci jenis hias. Lembang dulu kala dikenal sebagai penghasil daging kelinci, bukan kelinci hias seperti sekarang. Tetapi karena pangsa pasar wisata dan petshop Jakarta juga tertarik dengan kelinci hias, sebagian memilih hias. Selain itu peternak juga merasakan lebih untung memilih jenis hias, karena harganya berlipat ketimbang kelinci penghasil daging. Satu ekor kelinci hias, anakan umur 1 bulan dijual ke para Bandar dengan harga Rp 10-25 ribu per ekor. Sedangkan kelinci pedaging hanya dihargai Rp 20-25 per ekor untuk umur 4 bulan.

Kenapa harga kelinci hias membumbung tinggi sementara kelinci pedaging anjlog? Bukankah di luar negeri daging kelinci mendapat kemuliaan harga di pasar?

Malaysia katakanlah menghargai daging kelinci per Kg mencapai Rp 125 per Kg. Sedangkan Arab Saudi kira-kira Rp 175-225 ribu per Kg. Sedangkan di Indonesia? Paling banter hanya Rp 25 ribu per Kg. Warung-warung sate yang berada di kawasan Lembang sampai Tangkuban Perahu memang terus laris. Ada lebih 80 warung sate kelinci dari tiga golongan, kecil atau warung sate mini, golongan menengah atau warung sate kelas rumahan dan golongan elit atau warung sate sekelas restoran. Setiap hari, terutama sabtu dan minggu tak ada warung sate yang sepi. Masing-masing memiliki konsumen yang sangat bagus. Harga sate kelinci per porsi (termasuk nasi) mencapai Rp 15.000. Untuk memenuhi target penjualan 15 porsi (150 tusuk) seorang pedagang sate hanya butuh Rp 20-30 ribu atau sate ekor kelinci. Di sini kita bisa melihat bahwa seorang penjual sate akan mendapatkan uang Rp 225.000 dipotong nasi (-+ Rp 25.000 dan bumbu Rp 15.000).

Pedagang sate kecil yang mampu menjual rata-rata 15 porsi saja keuntungannya sudah sangat besar. Warung sate kelas menengah dalam sehari rata-rata mampu menjual 30-40 porsi, sedangkan kelas restoran mampu menjual antara 100-160 porsi per hari. Tetapi jujur, harus kita akui kenyataan itu tidak sehat. Pasalnya harga daging dari peternak sangat rendah, yakni Rp 15-30 per ekor. Padahal satu ekor kelinci mampu menghasilkan antara 25-35 porsi sate. Harga ini sangat jauh dari standar dan menimbulkan rasa frustasi peternak kelinci pedaging karena mereka membutuhkan waktu lama, yakni 3-4 bulan masa penjualan. Berbeda jauh dengan harga kelinci hias. Serendah-rendahnya kelinci hias, yakni Rp 10 ribu, tetap lebih menghasilkan karena bisa dijual dalam masa 1,5 bulan. Inilah ketimpangan pasar yang tidak terkendali dan membuat para peternak kelinci terpaksa memilih ternak kelinci hias yang asas manfaatnya hanya untuk kesenangan semata, bukan untuk penghasil gizi berkualitas di masyarakat.

Kelayakan harga
Menurut hemat saya, harga kelinci pedaging yang layak minimal Rp 25-28 ribu per Kg. Dengan begitu rata-rata per ekor kelinci siap potong (umur 4 bulan) yang mampu menghasilkan 2 Kg itu dihargai minimal Rp 62-80ribu per ekor. Dengan harga ini saja, pedagang sate kelinci masih tetap memiliki keuntungan tinggi karena setiap ekor kelinci akan menghasilkan uang minimal Rp 225 ribu dan tambahan uang dari penjualan kulit kelinci yang bisa dijual Rp 5-15 ribu.

Kita senang setiap orang bisa kaya, tetapi kalau satu kelompok bisa kaya sedangkan kelompok lainnya bangkrut, secara otomatis akan menjadi bumerang bagi semua. Gejala ini sebenarnya sudah nampak akhir-akhir ini. Para penjual sate sudah kelimpungan kesulitan mencari kelinci potong karena para peternak sudah malas beternak kelinci pedaging. Fatalnya lagi, kalau kemudian pasar kelinci hias yang labil itu pada akhirnya merosot. Bisa jadi setelah para peternak beralih dari pedaging ke hias, mereka akan gulung tikar.

Ini sangat berbahaya. Bisnis yang serba mengandalkan tingginya keuntungan tanpa memperhatikan sisi produksi, hanya akan mengakibatkan kesulitan usaha. Karena itu secepatnya para peternak kelinci harus menyatu untuk membuat posisi tawar harga daging kelinci. Para pedagang sate atau produsen daging kelinci lainnya pun mestinya menyadari situasi ini.

Asep Sutisna (Ketua Paguyuban Peternak Kelinci Lembang Bandung Barat). Email: asep_rabbitproject@yahoo.com. Alamat: Jl Raya Bandung-Lembang No 119 Lembang Bandung Barat. No tlp: 0817217***(gst/gst)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Naskah ini dimuat di Detik.com/bandung Senin, 06/07/2009 09:41 WIB
http://bandung.detik.com/read/2009/07/06/094148/1159542/500/


41 responses to “Potensi Daging Kelinci dan Problem Harga Pasar

  1. muhammad iqbal 7 Juli 2009 pukul 10:12 am

    di sini sangat diperlukan peran serta pemerintah terkait agar bisa mencari solusi yang tepat bagi semua pihak,ya kalau pemerintah terkait tidak mau turun tangan,kasian lah para peternak sudah capek2 memelihara tapi hasil nya tidak mencukupi……

  2. lenk 8 Juli 2009 pukul 3:27 pm

    setuju sekali…harga daging diluar negeri lebih tinggi drpd di indonesia,kenapa kita tidak ekspor daging aja ke luar negeri..itu lebih menguntungkan tho..mas asep jg bisa menampung dr para peternak,jd bisa saling menghidupi. negara jg mendapat pemasukan yg lebih besar lagi kan..masalah kualitas daging ,kita ikuti standar internasional..ayo..go international…nuhun.

  3. Didik 10 Juli 2009 pukul 4:28 am

    Saya setuju jika ada broker/peternak kelinci yang berani mengambil langkah untuk go internasional. Untuk hal tersebut diperlukan sebuah wadah bagi para peternak kelinci untuk mengumpulkan hasil panen. Selain itu juga untuk meningkatkan tingkat kualitas hasil panen, dan sosialisasi bagi peternak yang baru memulai. Mohon petunjuk bagi yang sudah berpengalaman.

  4. Sapta 16 Juli 2009 pukul 8:54 am

    SEPAKAT…!!!! untuk mencapai semua itu…peternak kelinci harus mempunyai wadah…yaitu
    KOPERASI…yang berprofit oriented & mensejahterakan anggotanya…, yang dikelola secara profesional, bukan nepotisme & nepotisme seperti kebanyakan koperasi pada umumnya umumnya…peternak kellinci harus bersatu & menjadikan KOPERASI ini sebagai BANDAR resmi yang kemudian oleh KOPERASI diproses lebih lanjut untuk menambah nilai tambah.
    – dagingnya bisa diekspor, dijadikan abon, baso nugget dst…
    – kulitnya bisa menjadi komoditi konveksi
    – kotorannya bisa diolah menjadi pupuk organik
    – mgkn otaknya bisa dipakai untuk keperluan kedokteran…

    AYO PETERNAK KELINCI BERSATU…MENJADI KOPERASI PETERNAK KELINCI INDONESIA

  5. adhi 17 Juli 2009 pukul 4:19 am

    Ayo kita wujudkan impian yang mulia ini . LANJUTKAN . KITA BISA. Semarang siap mendukung

    Maju Perkelincian Indonesia

  6. yanuar 19 Juli 2009 pukul 5:59 am

    betul skali brater, klo harga untuk klinci potong 28rb/Kg sangat cocok buat nambah motivasi peternak. tp untuk psr lokal wrg sate kira2 mau beli ga tu? untuk /kg 20rb jg byak yg geleng2

  7. jati diri 21 Juli 2009 pukul 2:37 pm

    produsen utama disini malah kelabakan, sementara pada tingkat kedua dan ketiga yang tidak bekerja terlalu keras malah menuai hasil yang signifikan…
    memang aneh bin ajaib

  8. Hends 27 Juli 2009 pukul 5:06 am

    Mungkin para peternak kelinci harus bersatu dan kompak untuk menentukan standar harga jual daging kelinci yang lebih baik. Lha wong sate kelinci saja harganya lumayan mahal, kok dagingnya murah meriah???

  9. rismana 27 Juli 2009 pukul 5:43 pm

    Kita kasih tau aja perbandingan nilai gizi antara daging kelinci,ayam,dan kambing kepada si pembeli.Bukankah daging kelinci itu lebih unggul dibanding ke-duanya? Dan bukankah kualitas juga menentukan harga pasar? semoga harga daging kelinci bisa ada pada harga yg layak,agar peternak makmur dan menjamur.

  10. suprus 1 Agustus 2009 pukul 4:23 pm

    maf untuk kelinci pedaging yg bayak di kembangkan jenis apayah? aku pemula ingin ternah kelinci pedanging mohan infonya bagi kelincimania sebelumnya makasih

  11. dodi 2 Agustus 2009 pukul 1:05 pm

    New zealand saja yang cocok. Banyak bibit dan dagingnya lumayan pas. sesekali kawin silang dengan flemish giant

  12. halim iwanto 6 Agustus 2009 pukul 8:05 am

    saya sangat setuju dengan pernyatan tentang pembuatan standar harga kalau bisa harga nasional agar para peternak kelinci bisa menuai hasil kerja keras mereka

  13. bowo 20 Agustus 2009 pukul 9:13 am

    Salam kenal,
    saya ingin ternak kelinci pedaging, kalo baca artikel Bapak sepertinya perlu usaha keras agar harga dagingnya bisa tinggi. Mungkin perlu informasi ke masyarakat bahwa daging kelinci juga oke untuk disantap seperti ayam atau sapi.

    Saya salut Bapak terus konsisten di ternak kelinci.

  14. sapar 30 Agustus 2009 pukul 6:01 pm

    ya kenapa gak ada investor asing yang coba untuk menggarap potensi ini lhooooo

  15. yoen 8 September 2009 pukul 12:59 am

    Ini hanya saran dan unek2 saja………..Produsen kelinci daging untuk menggandeng tukang masak ( juga Ini himbauan untuk ICA jawa Barat /Bandung), Hotel hotel mungkin bisa dimulai di daerah lembang (PHRI Bandung ) dalam mensosialisasikan daging kelinci dan kreatifitas penyajian yang lebih kreative dari sekedar sate dan Itu yang namanya dinas Pariwisata untuk bikin wisata culinernya (Bandung yg sdh beken)..buat festifal culiner kelinci di lembang yang konsisten…dengan creating new market ,permintaan akan lebih dan harga akan lebih baik untuk peternak ,,,hai para tukang sate,,,, jangan terlalu maruk dong enggak fair ke produsen dan juga ke market

  16. Sigit riyanto 15 September 2009 pukul 8:04 am

    Sudah saatnya peternak kelinci mengelola produksi dari hulu sampai hilir. Sehingga bisa menentukan harganya sendiri

  17. Tri harjanto 17 September 2009 pukul 2:05 pm

    Saya peternak kelinci jenis FLAM/PEDAGING di BOYOLALI JAWA TENGAH, bagi yg membutuhkan bibit atau kelinci dewasa utk pedaging. Hub : 085725024005 atau email : harlanzz@yahoo.com

  18. Herru Prastyo 7 Oktober 2009 pukul 2:49 am

    Hukum Pasar jangan dilawan, tapi dikendarai. Disisi Supplay, dorong peternak beternak kelinci hias yang lebih baik harganya itu. Maka ketersediaan kelinci daging akan berkurang, harga jadi naik. Peternak harus mau diversifikasi usaha tapi tetap di bidang kelinci. Di sisi Demand, pemerintah mendorong sosialisasi yang kontinyu dan berkualitas untuk konsumsi kelinci daging. Dan memfasilitasi pengiriman daging tsb untuk daerah yg kecukupan gizinya kurang, harus oleh peternak kelinci daging sendiri, bukan pengepul yang ndak punya ternak.

  19. Robin Angga Gunawan 16 Oktober 2009 pukul 3:29 am

    saya tertarik dgn inpormasi tentang kelinci,tolong kalau ada pameran saya ingin tahu

  20. cahria 17 November 2009 pukul 7:18 am

    kalau ada pameran kelinci atau info baru mengenai perkelincian tolong kasih informasi ke alamat email diatas, saya peternak pemula lagi mencari bibit jenis hias kalau ada yg agak murah tolong infonya HP 08818276483

  21. sara 26 November 2009 pukul 6:12 am

    saya berencana untuk berbisnis makanan barbahan dasar kelinci di wilayah jakarta, kira- kira kalau sekarang ini harga daging kelinci per-kg nya berapa ya? lalu klo di sekitar wilayah jakarta dimana saya bisa mendapatkan daging kelinci? Trims

  22. Kabar Kelinci Indonesia 26 November 2009 pukul 11:37 am

    tidak ada stoknya. Masing-masing harus mendekat ke peternak. Daging kelinci masih ekseklusif, mesti mencari sendiri ke peternak.

  23. penjual 18 Januari 2010 pukul 9:04 am

    saya memiliki usaha jual daging kelinci yang mudah2an dapat memberikan pengiriman secara rutin……….. untuk wilayah jabodetabek.
    harga daging kelinci 45.000/kg karkas (tanpa kepala dan kaki)
    jika berminat dapat menghubungi 081387543299/ 021-92192642

  24. arbu 20 Januari 2010 pukul 4:46 am

    saya ingin ternak kelinci pedaging, tp saya kesulitan cari utk cari bibitnya. kalo daerah cirebon ada ga ya yg jual bibitnya, sy dari kuningan

  25. elis 28 Januari 2010 pukul 9:15 am

    harga 45ribu/kg.untuk wilayah jabotabek hub.o81387543299 ato 02192192642

  26. Gie 29 Januari 2010 pukul 3:39 am

    saya setuju,….
    Go Internasional dg mengekspor Kelinci kita, spt k malaysia yg memang membutuhkan banyak kelinci.
    Sekarang tgl siapa yg mengkordinir misal tuk wilayah bdg.

  27. Nunu Ibnu 21 Februari 2010 pukul 12:39 am

    kira kira seekor kelinci menghabiskan pakan berapa kg.itu yang jadi masalah.

  28. ari rabbit 26 Februari 2010 pukul 12:40 pm

    saya dari KKeR (Komunitas Kelinci Rajapolah ) untuk rekan2 yg membutuhkan kelinci anakan,indukan lokal silahkan hubungi saya di 0265 7956906- 085223909996

  29. yuli kasiono 27 Februari 2010 pukul 7:24 am

    go internasional…?
    ide yang sgt brillian….

  30. Iwan Kusmana 28 Februari 2010 pukul 4:22 pm

    Saya sangat setuju dengan ide untuk membangun suatu wadah untuk para peternak dan penghobi kelinci. karena dengan adanya wadah tersebut, akan membuat bargaining power para peternak akan menjadi lebih kuat.

  31. Rismana 2 Maret 2010 pukul 12:56 pm

    Buat kang Arbu mungkin saya bisa bantu,saya suka beli kelinci di daerah Pasar baru tepatnya disimpang tiga dan di Puja sera.Kang arbu coba aja kesana mungkin mereka bisa bantu cariin bibit buat kamu. Saya juga dari Kuningan Lebakwangi,mudah2an kita bisa saling bantu dan bersatu dalam mensukseskan berternak kelinci di Kuningan,amin.

  32. amartha 17 Maret 2010 pukul 3:39 pm

    klo mw jual klinci pdaging kmana sih biasa’a ?

  33. rory 25 Maret 2010 pukul 9:11 am

    saya ingin jadi peternak kelinci .gimana konsep dan cara ternak kelinci.

  34. muhammad wahyudi 27 Maret 2010 pukul 6:01 am

    ayo jangan ngomong go internasional terus, tapi langsung realisasikan. bentuk dulu wadahnya, pengurusnya, ad/art..kemudian go internasional. PASTI BISAAAAAAAAAA…..

  35. supriyadi 30 Maret 2010 pukul 8:43 am

    hallo….saya baru mau gabung nih…
    saya berminat untuk menjadi peternak kelinci.
    dalam hal ini saya masih perlu banyak informasi tetang perkelincian.
    mudah2an ini dapat membantu saya.

  36. anry 6 April 2010 pukul 5:15 pm

    setuju untuk membuat wadah pra peternak kelinci….
    tapi apa ada yang mau mengurusinya,,???

  37. Erwin - Malang 13 April 2010 pukul 7:45 am

    Kami Penyedia Kelinci Pedaging Berat minimal 2,5 Kg Up.. Rp16;rb/Kg (Bergaransi) Peternak Unggul Tumpang- Malang Hub: 081333499099

  38. eshape 3 Juli 2010 pukul 12:02 pm

    Wow…

    Rupanya blog Kelinci mang Asep ada dua ya.
    Yang disini lebih seru dibanding yang di blogspot.

    Kayaknya perlu blog khusus nih, misalnya kelinciasep.com jadi bisa lebih bergengsi dan lebih optimal dimanfaatkan oleh para peternak kelinci.

    Salut buat semua peternak kelinci. Semoga bersatu dalam wadah yang baik dan bermanfaat.
    Amin.

    Salam Sehati

  39. romanu 20 Agustus 2010 pukul 6:52 am

    kita tidak perlu mengandalkan pemerintah,mereka sibuk dg urusan mereka,hal2 kecil aja banyak yang belum tuntas apalagi hal semacam ini,kita mandiri aja, kita pelajari sebisa mungkin bagaimana utk mengembangkan para peternak kelinci indonesia

  40. adhe 27 Agustus 2010 pukul 6:03 am

    ya klo dibandingkan negara 2 lain kita juga harus liat..negara itu negara penghasil daging kelinci bukan..kalo negaranya bukan penghasil daging kelinci harganya mahal ya wajar lah…jdi kita jgn melihat sebelah mata…jgn seperti membandingkan knpa harga durian di jepang 150 ribu.tpi klo di indo cuman 25 ribu..?karna di jepang ndak ada durian….makanya mahal…tpi klomasalah harus bekerja sama sesama peternak kelinci aku juga setuju…biar semua juga untung…

  41. nyoman 30 Agustus 2010 pukul 5:40 pm

    Saya setuju……tiap tiap propinsi di seluruh indonesia harus ada minimal 1 wadah untuk menjual hasil ternak…….sehingga para peternak tidak ragu lagi untuk mengembangkan usahanya!!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: