KELINCI UNTUK HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

rendah lemak, rendah kolesterol, populasi cepat, dahsyat!

Kelinci dalam Media Massa


dsc05397 Kurun waktu tiga tahun terakhir ini pembicaraan pemeliharaan kelinci, baik peternakan maupun hobies semakin meningkat. Peranan media rupanya mampu menarik perhatian masyarakat terhadap kelinci, makhluk unik yang memiliki kelebihan di banding hewan ternak lain itu.

Peternakan kelinci di berbagai daerah semakin menggeliat. Bahkan peternakan kelinci di Lembang yang selama ini adem ayem, alias stagnan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya akhirnya harus menjadi sasaran pasar utama untuk pembibitan. Semua karena media. Melalui media, masyarakat berinteraksi dan kemudian banyak yang berminat memelihara kelinci impor skala rumahan. Tetapi media mana yang menggerakkan hal ini?

Internet, sedangkan media cetak maupun televisi tidak begitu berperan. Melalui internetlah komunikasi dan publikasi itu kemudian menyebarkan gagasan yang berujung pada tindakan.

“Rata-rata, orang jauh tahu peternakan saya setelah mendapat alamat saya dari internet,”kata Asep Sutisna, Raja Kelinci dari Lembang Bandung.

Menurut Asep, beberapa kali media cetak dan televisi memang menayangkan liputan peternakannya. Tetapi televisi tak menggerakkan masyarakat dating karena tiada alamat lengkap. Sedangkan media cetak, terutama koran harian beritanya hanya bertahan sehari. Alias banyak orang yang luput membaca.

Hal senada juga diakui peternak Kelinci asal Blora, Wagiyo. “Ada banyak orang mencari kelinci ke saya. Katanya tahu alamat dari internet, padahal saya tidak tahu apa itu internet,”tutur pemilik kelinci pedaging itu. Setelah diusut, ternyata saudara Wagiyo yang di Semarang yang mempublikasikan peternakannya lewat internet. Dari situ kelinci Wagiyo pun laris. Saking larisnya sering kelabakan memenuhi permintaan, bahkan hanya mampu memenuhui 10 persen permintaan.

Pasar kelinci terus meningat. Peningkatan ini bukan semata karena kesenangan orang kota memburu satwa untuk piaraan hias, melainkan juga kebutuhan masyarakat mendapatkan induk kelinci impor jenis besar, terutama New Zealand, Flemish Giant dan English Spot. Dari hari ke hari grafik naik terus, dan mungkin tidak akan pernah turun sebelum pasokan kelinci memang banyak.

Anehnya, gejolak ini tak pernah direspon media cetak, minimal media cetak agribisnis dan peternakan. Padahal kalau mau berpikir pragmatis, sebuah media cetak yang rutin menyajikan ulasan kelinci dipastikan akan laris manis karena penggemar kelinci saat jumlahnya mencapai ribuan orang. Dari ribuan penggemar itu rata-rata membutuhkan informasi dan pengetahuan tentang kiat ternak kelinci secara tepat dan baik. Ini bisa dilihat dari beberapa blog dan website. Ribuan calon peternak itu begitu serius belajar dari nol untuk memulai peternakan kelincinya. Tak heran jika buku-buku kelinci pun laris manis.

Jika sebuah media cetak peternakan atau agribisnis mengambil peluang pembaca dipastikan oplagnya akan naik, tentu jika setiap pemuatan itu sering dikabarkan melalui forum diskusi di millist kelinci, atau ditayangkan melalui situs tertentu. Akan lebih baik jika media-media tersebut memuat pembahasan khusus tentang kelinci supaya masyarakat hafal bahwa media tersebut layak dibeli karena mengulas masalah perkelincian.

Di luar internet, pangsa pembaca media cetak pada segmen kelinci sangat luas karena sebagian besar masyarakat kita belum terintegrasi dengan internet. Itu pasti.

(Sisilian Have, pemelihara kelinci, tinggal di Tangerang)

9 responses to “Kelinci dalam Media Massa

  1. e djoko soenarso 25 April 2009 pukul 11:38 am

    d tempatku madiun kota susah memasarkan kelinci, jadi ku ragu tuk memulai ternak .
    Bisakah akau d beri pencerahan ?

  2. dodi 26 April 2009 pukul 5:15 am

    Mas Djoko, apa sudah memasarkan sehingga mengalami kesulitan? bagaimana cara memasarkan? apakah seperti menjual barang lain atau dengan cara yg tepat?
    Beruntung Anda masih ragu, alias tidak takut. Kalau takut kan memang sebaiknya tidak maju. Kalau cuma ragu, itu bisa dihilangkan dengan seringnya belajar dari mereka yang berpengalaman dan banyak membaca ulasan. Ini akan sangat membantu. Keunggulan kelinci karena memang tidak memiliki pasar. Kalau pasar sudah luas ntar kita mengeluh, “oh, sudah terlalu banyak jadi kita harus bersaing untuk sukses.’
    Bersyukurlah bahwa belum ada pasar kelinci konvensional sehingga kita ini sebenarnya sedang melangkah secara tepat karena memanfaatkan peluang yg unik dan terbuka luas…..

  3. yunidar 28 April 2009 pukul 5:41 am

    Kelinci sangat menarik untuk dimiliki dan dipelihara dengan baik disenangi oleh anak-anak dan disukai oleh yang punya anak. Namun binatang satu ini memberikan apresiasi terhadap pemiliknya bila sakit apalagi mati tiba-tiba minimnya ilmu dan takutnya terhadap virus dan berbagai wabah yang disebkan oleh binatang membuat orang seperti saya ingintahu tetang kelinci.
    Kebetulan saya melihat kecenderungan orang terhadap kelinci bukan hanya di pulau Jawa di pulau Sumatera juga banyak yang menyukai kelinci di Kota Banda Aceh sudah ada pula orang yang menjual kalinci. Tapi harganya sangat mahal dan kurang binatangnya akhirnya pasar memberikan peluang lebih.
    Informasi tentang kelinci sama halnya dengan info kembali ke alam dan menyayangi binatang, mengurus, mengembangbiakkan dan memberikan perhatian yang lebih tentang hewan lucu ini.
    semoga dengan ada semangat tentang kelinci kita bisa bersilaturrahmi dan memberikan pesan bahwa kelinci bisa mendapat tempat dalam keluarga kita.

    Kesedihan saya atas ketidak adanya ilmu tentang kelinci memberika kesempatan saya untuk belajar dan membaca tentang hewan satu ini. Terima kasih bagi siapa saja yang telah memberikan info tentang Kelinci. salam Y

  4. lenk 10 Juli 2009 pukul 4:18 pm

    sebenernya banyak kok yg bisa kita dapatkan dari kelinci,kita bisa jual sbg bibit atau kita jual daging olahan yg bisa lbh tahan lama mis;kita bikin dendeng,abon dsb.kulit jg bisa digunakan untuk tas,jaket,sandal dsb,tinggal kreatifitas kita yg diperlukan,kita lihat peluang ada dimana. ternak kelinci atau apa saja itu mudah,tapi market yg sulit,kita harus banyak belajar,hrs aktif, n membuka pasar sendiri…saya rasa itu salah satu kunci sukses…jangan takut gagal, contohlah pioner kita bpk asep…jangan lihat suksesnya atau kekayaannya tapi lihatlah perjuangannya sampai bisa menjadi seperti ini…salam lenk.

  5. Luna 11 September 2009 pukul 6:40 am

    Wah saya juga sangat suka dengan kelinci. Di rumah ada 4. sepasang dutch dan sepasang Lop. Lucuuuuuuuuu deh, pengen ngelus2 terus rasanya :p

  6. risnu hidayat 9 Desember 2009 pukul 8:13 am

    Aku juga punya 9 pasang tapi sampai saat ini masih kesulitan pemasarannya,tolong dong dibantu aku juga pingin sukses.

  7. Kabar Kelinci Indonesia 9 Desember 2009 pukul 9:30 am

    tahap pertama bikin blog, infokan peternakan secara akurat, lengkap. Alamat. Jangan hanya memberi nomor hp saja. Kelinci pedaging dengan hias beda. Mesti dijelaskan secara detail. Pemasaran ke tetangga dengan model perkenalan dan penggalangan ternak itu sangat baik. Bekerjasama dengan penjual sate sangat efektif.

  8. FENDY 21 April 2010 pukul 1:41 pm

    klw aku punya sepasang rex tricolor dan rex satin.

  9. Tomi aji 11 September 2010 pukul 10:37 am

    Sy tinggal di jaten, karanganyar,solo..
    Disini sy sdang mengembangkan kelinci jenis Flamish giant,Eng.spot,Rex,Dutch,dan Fuzylop..
    Bagi temen2 yg pngen liat2 ato mencari info ttng kelinci bs maen ketempat saya,makasih..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: