KELINCI UNTUK HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

rendah lemak, rendah kolesterol, populasi cepat, dahsyat!

Kisah Promotor Kelinci di Majalah Mutiara 1981


Mamur Suriaatmadja

Promotor Kelinci Indonesia

dsc000371 Kelinciku, kelinciku

Kau manis sekali

Meloncat kian kemari

Sepanjang hari

Aku ingin menemani

Sepulang sekolah

Bersamamu lagi

Menari-nari (Chicha Koeswoyo)

Sejak “kelinci masuk Bina Graha” tanggal 26 Juni 1980, maka binatang yang jadi lambang Play Boy itu bukan saja disenangi anak-anak lewat lagu pop Chicha Koeswoyo. Tidak kurang dari seorang Kepala negara telah menaruh perhatian terhadap pengembangan peternakan kelinci untuk meningkatkan gizi rakyat.

Bahkan pada kesempatan Rapat Kerja Gubernur se-Indonesia akhir Februari lalu, Presiden Soeharto telah menghindangkan beragam masakan kelinci di Istana Merdeka untuk disantap para Gubernur dan Nyonya. Tetapi siapakah orang yang telah merintin jalan sampai kelinci bisa mendapatkan promosi luar biasa justru dari seorang Kepala Negara?

Tokoh itu adalah seorang laki-laki ganteng asal Bandung dengan tinggi 171 Cm, bernama Mamur tanpa K) Suriaatmadja. Tinggal di Jalan Diponegoro, di Kawasan elite Kota Bandung, rumahnya memiliki halaman yang luas, teduh dan sejuk. Interior rumah yang antik tetapi sederhana dilengkapi peraobtan kuno dan buku-buku tua. Di atas rak menclok sebuah potret Mamur dan Presiden Soeharto mengabadikan kunjungan Mamur di Bina Graha. Rumah sebeas itu hanya didiami oleh 6 orang.

“ini bukan hasil dari beternak kelinci, tapi warisan orang tua saya”, kata Nyonya Mamur kepada Mutiara di bandung. Memang, Mamur sendiri tidak mempunyai peternakan kelinci, bahkan di rumahnya tak ada seorang pun kelinci peliharaan. “Saya dan adik saya asma, jadi alergi terhadap bulu kelinci,: kata Maksum anak laki-laki tertua Mamur yang duduk di kelas II SMA di Bandung.

Alasan Mamur sedikit berbeda. “Kalau saya berternak kelinci, berarti harus dijual. Ini ‘kan mengurangi peluang masyarakat peternak. Jadi saya memiliki jadi promotor saja,” kata Mamur. Oleh masyarakat peternak kelinci Mamur ditunjuk sebagai pimpinan sebuah organisasi non-komersil bernama “Romayo”. Nama tersebut merupakan singkatan dari Rosyid, Mamad dan Yoyo, yang oleh Mamur dianggap sebagai guru dan pelopor ternak kelinci di Bandung.

Sejak kapan mulai tertarik dengan kelinci? “Sejak tahun tujuh puluhan,” kata Mamur yang kini berumur 46 tahun. Menurut Mamur selama lima tahun, sejak perkenalannya dengan kelinci, dia tidak memperoleh hasil yang memuaskan. Kemudian kurang lebih dua tahun lalu Mamur bertemu dengan Rosyid yang sudah punya pengalaman 20 tahun dalam beternak kelinci.

Dari sanalah kemudian kegiatan kemasyarakatan Mamur mulai mendapat peluang. Didirikanlah “Romayo” yang dimotori oleh Mamur. Rosyid yang tinggal di Rt 03-RW 02 No 42. Lingkungan Isola Kecamatan Sukasari Bandung, menganggap Mamur sebagai pimpinan yang punya kebolehan. “dia sangat memperhatikan kami orang-orang kecil, padahal tidak digaji,” kata Rosyid di rumahnya yang sekaligus psat peternakan.

Sambil menggunting bulu-bulu kelinci Rosyid menceriterakan kemajuan yang mereka capai kini adalah berkat bimbingan Mamur. “Harga kelinci juga sekarang naik. Dulu Rp 300 per kilo, sekarang Rp 1.000 per kilo,” kata Yoyo, ikut menimpali pembicaraan ayahnya, Rosyid.

Menggadai Perut ke Luar Negeri

Pengetahuan Mamur tentang kelinci tidak tanggung-tanggung. Dia berangkat dari suatu kerangka permasalah pangan secara nasional. Menurut Mamur, tingkat konsumsi daging dari sebagian rakyat terutama golongan berpenghasilan rendah masih jauh dari persyaratan gizi minimum, yakni 8,1 kg per kapita per perahun.

Padahal produksi daging terus meningkat di samping ada pertumbuhan penduduk sebanyak 14 juta jiwa dalam Pelita III. Ternyata Mamur melihat persoalannya terletak pada daya beli yang rendah dari masyarakat. “Praktis rakyat berpenghasilan rendah tidak mencapai persyaratan gizi minimal.

Golongan ini berkisar 70 sampai 80 juta jiwa,”kata Mamur. Jumlah tersebut setiap tahun akan bertambah jika tidak ditempuh strategi pangan yang tepat. Strategi panganekaragaman pangan yang akhir-akhir ini diperkenalkan oleh pemerintah, menurut Mamur mestinya diawali dengan peningkatan konsumsi daging.

Persoalannya kemudian, apakah pilihannya jatuh kepada daging kerbau, domba, sapi, kambing atau ayam? “Tidak, daging-daging jenis itu terlalu mahal,” ucap Mamur yang sehari-hari bekerja sebagai Manager Koperasi Keluarga ITB.

Bagaimana kalau beralih ke roti? “Itusama saja menggadaikan perut ke luar negari,” kata Mamur ketus. Pilihannya terhadap kelinci didasarkan kepada pertimbangan bahwa dengan memilihara 3 ekor induk kelinci jenis unggul, maka setelah 5 bulan akan menghasilkan satu hingga satu setengah kilogram daging tiap minggu untuk sebuah keluarga kecil yang terdiri dari 6 jiwa. Selain itu masih ada sisa 1-2 ekor tiap bulan untuk dijual. “Itu saja sudah melampaui target minimal persyaratan gizi,”sambung Mamur.

Persoalan baru masih ada pula. Apakah orang mau memakan kelinci? Hal ini diakui Mamur sebagai salah satu hambatan psikologis dalam hubungannya dengan kampanye beternak kelinci. “beternak kelinci gampang yang sulit makannya,”kata Mamur. Itulah sebabnya, Mamur bekerja keras untuk memulai mengampanyekan kelinci lewat Presiden Soeharto.

Mula-mula dikirimnya surat kepada Solichin Gp, Sekretaris Pengendalian Operasinal Pembangunan, yang dikenalnya semasa menjadi Gubernur Jawa Barat. Rupanya gayung bersambut kata berjawab. Pak Harto yang sejak di KOSTRAD dulu telah berternak kelinci segera mengundang Mamur beserta anggota Romayo ke Binagraha untuk memperagakan “Pabrik Daging Mini”.

Orang memang selama ini beranggapan bahwa kelinci digolongkan dengan tikus dan kucing. Dengan upaya Mamur, sehingga Pak Harto secara terbuka dan langsung mengjak rakyat makan kelinci, hambatan psikologis itu perlahan-lahan bisa didobrak. Dan lagi, Mamur punya kacamata budaya yang jeli. “Kita ini ‘kan paternalistis. Boss makan apa itu yang kita makan,” kata Mamur sambil tertawa.

Dari sudut agama pun Mamur berusaha menghubungi kalangan agama, untuk menanyakan halal atau haramnya memakan kelinci. Konon Majelis Syara Departemen Agama pernah megeluarkan fatwa khusus kepada kaum Islam bahwa kelinci adalah binatang yang halal dimakan.

Tidak puas dengan upaya promosinya, lewat Bina Graha, Mamur juga menghadiri forum-forum ilmiah. Dia tampil membacakan makalahnya pada Temu Karya Kontak Tani di Soreang pada bulan Maret 1980, berjudul “beternak Kelinci Untuk Perbaikan Gizi Keluarga.”

Di simposium Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam masalah Pangan, Energi dan Kependudukan, Oktober 1980, Mamur juga diundang membacakan makalahnya berjudul “Pengembangan Ternak Kelinci untuk Perbaikan Mutu Pangan Rakyat”. Simposium yang diselenggarakan oleh ITB dan dihadiri oleh guru-guru besar serta sarjana terkenal itu telah dihidangi masakan kelinci oleh Mamur.

Penguasaaannya atas bahasa Inggris dan Belanda serta kelanannya di luar negeri barangkali merupakan sesuatu yang berpengaruh atas penampilannya. Apalagi Mamur, sebagaimana diceritakan istrinya, rajin sekali emmbaca serta menyusun guntingan koran. Mungkin karena penampilannya ini banyak orang mengira Mamur seorang insinyur.

Belum lagi kalau melihat jabatan lainnya. Mamur sejak 1978 Asisten Khusus Direksi Perusahaan Daerah Pertambangan Jawa Barat di Bidang penelitian danPengembangan. Sejak 1978 ditarik oleh Dr.Ir. Filino Harahap Direktur Pusat Teknologi Pembangunan ITB, untuk menjadi Asisten Khusus. Suatu ketika di tahun 1979 Mamur menerima piagam penghargaan dari Meteri PPLH Emil Salin dalam rangka hari lingkungan hidup.

Di atas piagam itu terukir nama Ir Mamur Suriaatmadja yang mendapat penghargaan karane berhasil dalam “penanaman motivasi bagi penemuan teknologi tepat guna untuk pengelolaan sumberdaya alam.”Penghargaan ini diberikan kepadanya karena berhasil memperkenalkan pompa bamu dari Ciamis.

Pada predikat Ir. Didepan nama Mamur kini ditempeli kertas agar tidak dibaca orang. “Saya Cuma lulus SMA,”kata Mamur dengan rendah hati. Ketika masih sekolah dulu kawan-kawannya adalah Fanny Habibie yang kini Sekretaris Ditjen Perla dan Rudy Habibie yang menjawab menteri Ristek.

Kini teras ada perhatian dari masyarakat dan pemerintah terhadap usaha pengembangan peternakan kelinci itu. Bekerjasama dengan Dinas Peternakan Jawa Barat, di Desa Wangun Jayo, Cikalong Wetan, Romayo sedang membina 107 kepala keluarga untuk menguasahakan “Pabrik daging mini”.

Di Sukasari, tempat Rosyid, sudah ada 30 keluarga di sekitarnya yang ikut beternak kelinci. Untuk mengenang hari “kelinci masuk Binagraha”, yakni hari Kamis maka seluruh anggota Romayo pada setiap hari Kamis tidak makan nasi, hanya makan kelinci dan ubi-ubian.

Banyak masyarakat yang minat datang dari Surabaya, Semarang, Yogya, Solo, Magelang, Cirebon dan lain-lain. Yang tidak sempat berkunjung hanya mengirimi surat dari semua penjuru tanah air. Tetapi Mamur kelihatan belum terlalu puas dengan usahanya mempromosikan kelinci.

“Presiden sudah memberi perhatian, tapi kalau tidak diikuti dengan tidnakan teknis oleh aparatus bawahannya, ya sulit juga,” kata Mamur. Kampanye nasional? “Itu wewenang Menteri Pertanian dan Dirjen Peternakan,”ucap Mamur lagi.

Dari Presiden, Romayo juga pernah menerima bantuan bibit kelinci asal Belanda dan Australia. Dari Dirjen Peternakan akan didatangkan 1.000 ekor kelinci asal Australia.
Pendek kata, hari-hari Mamur penuh terisi dengan urusan kelinci. Sering pada pukul 11 malam, mamur masih berada di Sukasari mengantarkan tamu yang ingin mempelajari ternak kelinci. Dan Mamur tidak segan mengendarai Honda Bebek berkeliling Kota Bandung, Kendali di garasinya ada Mazda Capella.

“Bapak memang rendah hati,” kata Hasanuddin asal Surabaya yang sudah 10 tahun jadi supir pada keluarga Mamur. Upaya Mamur memang keras. Tapi entahlah. Chicha Koeswoyo akan beryanya “kelinciku, kelinciku. Kau enak sekali. Aku ingin memakanmu, Sepulang Sekolah. (Tamrin Ely: Majalah Mutiara 246 8 Juli-21 Juli 1981).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: