KELINCI UNTUK HARI ESOK YANG LEBIH BAIK

rendah lemak, rendah kolesterol, populasi cepat, dahsyat!

Indonesia Kekurangan Bibit Kelinci


ASEP SUTISNA:
Indonesia
Kekurangan Bibit Kelinci

Kelinci telah menjadi satu fenomena usaha yang menggiurkan. Namun kenapa belum menemukan jalan kemajuan yang lebih berarti? “Selain masalah pengetahuan, keyakinan juga belum ada pembibitan, “demikian kata warung-asep-rabbitAsep Sutisna, peternak, ahli pakan dan penjual kelinci asal Lembang Bandung.

Menurutnya masalah pengetahuan memang masih menjadi problem di dunia perkelincian. Tidak saja dalam hal kelinci, dalam ternak lain pun kebiasaan masyarakat mendapat pengetahuan lebih banyak didapat dari ilmu empiris, turun temurun. Mungkin saja dalam ternak sapi atau domba masyarakat lebih mudah melakukan karena mereka bisa belajar dari banyak orang. Tetapi menurut Asep, untuk kelinci agak berbeda. Hal ini disebabkan tidak banyak yang beternak kelinci secara serius. Dari situlah Asep merekomendasikan agar calon peternak atau pemelihara belajar sungguh-sungguh. Sementara menyangkut masalah keyakinan Asep melihat karena kebanyakan orang belum tahu betul seluk beluk perkelincian. “Dulu saya pun tidak banyak tahu. Tetapi setelah telaten dan bertahan beberapa tahun saya tahu di balik potensinya,” ujarnya.

Asep mengatakan bahwa dalam hal usaha kita harus yakin usaha yang dijalankan seseorang akan berhasil. “Kalau baru usaha sebentar gagal lalu tidak melanjutkan, ya pasti saja gagal,” katanya. Di luar masalah itu Asep sampai saat ini masih resah karena bibit-bibit kelinci di Indonesia belum didapatkan. “Kalau kita impor sendiri mahal harganya. Saya ini pernah mengimpor beberapa induk dari Amerika, mahal sekali. Padahal kita butuh banyak induk asli, terutama jenis Flemish Giant dan New Zealand untuk indukan pedaging,” tuturnya.

Menurut Asep seharusnya pemerintah memikirkan masalah ini. “Kalau bibit sapi sering didatangkan oleh pemerintah kenapa kelinci tidak? “ keluhnya. Sampai saat ini pemerintah memang tak pernah memikirkan hal ini. “Mereka bisa jadi tidak tahu. Dan repotnya kalau tidak tahu, tetapi memang tidak mau tahu. Kita menginginkan pemerintah agar tahu dan mau serius memikirkan hal ini. Minimal menyediakan bibit-bibit secara rutin,” paparnya.

Ia menegaskan, kelinci di Indonesia sulit mengalami kemajuan karena stok kelinci yang minim. Pasar bagi Asep bisa diciptakan di manapun. “Daging kelinci jarang dijual bukan karena tidak laku, tetapi karena stoknya itu sendiri yang tidak stabil, padahal permintaan sangat luar biasa.”

Bahkan menurutnya, untuk bermain di bisnis kelinci tidak perlu memikirkan persaingan, apalagi sampai menjatuhkan penjual lain. Ini semua karena pasar kelinci masih sepi, sekali lagi, bukan karena kelinci tidak laku, melainkan kekurangan stok. Nah, siapa yang mau memperbanyak stok? Dijamin laku….(KKI)

22 responses to “Indonesia Kekurangan Bibit Kelinci

  1. citrarabbits 19 Februari 2009 pukul 6:58 am

    Dear Bung Zuhairi, salam kenal.
    Saat ini Saya juga sedang merintis usaha kelinci dan masih dalam skala pekarangan rumah. Saya coba search mengenai jenis kelinci, ternyata banyak sekali blog yang mengulas perkelincian. Sayangnya dari sekian banyak blog tidak ada satupun keseragaman mengenai jenis & ras kelinci yang bisa match antara satu dengan yang lain. Saya kira ini bisa menjadi dilema dikemudian hari jika tidak ada standarisasi pengenai jenis klasifikasi yang tepat. Saya sendiri sebetulnya bingung menentukan dari jenis ras mana kelinci rex dan dwarf yang Saya miliki (karena terlalu banyak penyilangan?). Saya kira perlu ada synergi dari Rabbit lover (Pemilik blog) untuk menjaga standarisasi perkelincian demi untuk mengurangi potensi merugikan akibat ketidak tahuan.

    Salam rabbit.

  2. zuheiri 19 Februari 2009 pukul 12:19 pm

    Ini adalah satu problem. Di indonesia pembibitan asli dari negara asal sudah lama sekali, yakni tahun 1982an. Dan hingga kini tidak lagi didatangkan. Pemerintah tidak pernah mau melihat soal bibit kelinci. Jangankan akibat kawin silang. keturunan kelinci yang sudah masuk ke sepuluh kali pasti sudah buyar keasliannya. Kalau mau nyari standar keturunan asli juga susah memang. Ya menurut saya kalau memang belum mampu mendatangkan jenis asli, tidak masalah pelihara yang ada saja. Semampunya saja…sementara.

  3. Koko 20 Februari 2009 pukul 8:47 am

    Saya setuju dengan pendapat pada paragraf terakhir. Kita tidak perlu saling menjatuhkan dalam berbisnis kelinci.

  4. redi 21 Februari 2009 pukul 10:54 am

    Dear Mas Zuheiri,
    Mohon info tentang keaslian kelinci itu seperti apa? Bagaimana bisa buyar keasliannya?
    terus apa yang dimaksud dengan kelinci jenis F0, F1, F2, dst.

    trims

  5. Kabar Kelinci Indonesia 22 Februari 2009 pukul 7:56 am

    soal keaslian itu bisa dibuktikan dengan lisensi. (tentu saja keaslian induknya). Kalau keaslian anak induk import, maka bisa dibuktikan langsung ke peternakan setempat. F 1 kadang disebut jenis import, kadang pula digunakan untuk menyebut anakan import (dari keturunan langsung F 0). F 2 keturunan selanjutnya, begitu seterusnya.

    salam
    dodi

  6. pheeby 24 Februari 2009 pukul 1:32 am

    apa bedanya asli atau tidak? kalau hanya untuk pedaging yang penting kan menghasilkan daging yang banyak. kelinci-kelinci saya sudah kacau rasnya. tetapi karena pakan yang selalu surplus sekarang rata-rata malah menderita kegemukan. kelinci saya 100% mendapatkan pakan alam, hanya dari semak, rerumputan, dan buah/umbi alami. jadi, mau dagingnya atau penampilannya?

  7. igan 24 Februari 2009 pukul 10:30 am

    mas pheeby ikut senang dengan kemajuan kelincinya. Apabila dengan ras kelinci yg kacau balau saja hasilnya sudah bagus apalagi dengan ras kelinci yang memang secara murni dimuliakan sebagai pedaging. Misalnya New Zealand atau Flemish. Pasti dengan jumlah pakan yg lbh sedikit bisa menghasilkan volume daging lbh banyak. Intinya ras yg dimuliakan sebagai pedaging akan lebih efektif dan efisien dalam mengubah pakan menjadi daging. Kita bisa saja menyususn ras sendiri dengan cara seleksi dan persilangan, tapi tentunya itu butuh waktu, tenaga, kesabaran dan biaya yg tak sedikit. Itu mungkin maksudnya kang asep rabbit di atas.

  8. Tri harjanto 24 Februari 2009 pukul 2:07 pm

    Saya peternak kelinci jenis rex di Boyolali, mau tanya harga pasaran kelinci rex ?

  9. Rendro 25 Februari 2009 pukul 4:43 am

    Saya memiliki beberapa kelinci FG dan Spot yang akan saya kurangi. Bagi yang berminat di sekitar Jogja bisa menghubungi w.keilana@yahoo.com atau sms 081328273498/08812615962. Terima kasih. Rendro

  10. yatimah 2 Maret 2009 pukul 6:17 am

    salam kelinci
    aku mau tanya dimana aku bisa beli bibit kelinci buat ternak dan bagaimana memasarkanya nanti,soalnya aku tertarik untuk berternak kelinci makasih sebelumnya dan tempat tinggalku di cilacap jawa tengah

  11. yatimah 2 Maret 2009 pukul 6:25 am

    maaf lupa ngasih alamat bagi siapa saja yang tau informasi dimana aku dapat beli bibit kelinci dan memasarkannya tolong email aku di http://www.muhaidin@yahoo.com makasih yaa

  12. iman s 13 Maret 2009 pukul 1:06 pm

    salam kenal…
    kalo ada yang butuh kelinci dalam jumlah banyak,
    di sukabumi jawa barat sudah sangat banyak peternak yang melihara kelinci…
    silahkan menghubungi dinas peternakan kab sukabumi untuk menanyakan alamat para
    peternaknya…..

  13. Emean 20 Maret 2009 pukul 4:13 pm

    Mas aq mau tanya,dimana aq bisa mendapatkan indukan kelinci lokal di Semarang.

  14. aisya 28 Maret 2009 pukul 5:45 am

    eeemh
    menurut saya
    justru lembang sekarang kelebihan kelinci
    kalau di sebut kekuranagnmungkin tidak
    lebih tepatnya kita kekuranagn jumlah kelinci yang berkualitas
    BTW
    lihat blog saya juga ya!
    terimakasih

  15. Tri harjanto 11 Mei 2009 pukul 7:10 pm

    BAGI YANG BERMINAT ANAKAN KELINCI REX, ternak kelinci rex di BOYOLALI. hub 085725024005 ata0 email : harlanzz@yahoo.com

  16. Sugeng 26 Mei 2009 pukul 4:37 am

    Bagi yang berminat kelinci rex & flam, kami ada…….081359687409

  17. Sigit riyanto 28 Juli 2009 pukul 6:09 pm

    Saya peternak kelinci pedaging daerah jogja. Bagi yang berminat hub 085643733325

  18. nur 4 Desember 2009 pukul 3:08 pm

    a asep kalo mau masarin kelinci baik pedaging maupun hias dimana tempatnya?, dimana ada tengkulak yang mau menerima kelinci baik pedaging maupun hias dalam jumlah banyak setiap bulan? atau kalo kira2 ekspor daging kelinci lewat kemana a ?

    Atas Informasinya saya haturkan banyak terima kasih.

    Nur, Sby

  19. Kabar Kelinci Indonesia 4 Desember 2009 pukul 3:21 pm

    bikin saja blog, foto2, dengan alamat lengkap. Kalau kelincinya cuma dibawah 100 ekor barangkali sudah cukup melalui blog. Tayangkan di situs ini juga boleh, dilink.

  20. Untung 18 Januari 2010 pukul 8:02 am

    Salam kenal Kang Asep.
    Saya bersama teman2 sedang merintis untuk beternak kelinci pedaging dan juga hias. Saya mohon masukannya dari Kang Asep, kira-kira untuk jenis kelinci pedaging, yang cukup baik kualitas dan kuantitas dagingnyakelinci mana yang harus saya budidayakan : New Zaeland, Flemish atau Rex ?.
    Dan untuk kelinci hiasnya, kelinci hias apa yang paling diminati para hobbies ?
    Hatur nuhun KAng Asep atas balasannya.

  21. Kabar Kelinci Indonesia 18 Januari 2010 pukul 11:12 am

    Kang asep di http://asep-rabbit.blogspot.com
    pedaging sebaiknya new zealand saja. Tidak usah yang lain. Soal kombinasi kawin untuk menghasilkan daging besar nanti saja. New Zealand itu sudah cukup.
    Flemish selain mahal di modal, juga beban pakan besar, karkasnya juga besar. Untuk hobies setiap kelinci punya pangsa pasar sendiri.

  22. Stefanus 2 September 2010 pukul 4:17 am

    Untuk Nur,saya maw bertanya nih,hubungi 085641016594

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: